KEJUJURAN (Edisi IV/Feb/19)

GEMA SABDA: LURUS HATI


Berbohong satu kali, masih aman, berbohong dua kali, masih ringan, berbohong seterusnya akan jadi beban yang membayangi hidup setiap orang serta munculnya ketakutan akan sengsara dan siksaan akan dosa dari berbohong. Siapa yang tidak pernah berbohong? Jika ada maka ia adalah orang abnormal yang lahir bukan dari galaksi Bima Sakti melainkan Kera Sakti. 

 
Berbicara mengenai sikap “Kejujuran”, pasti setiap orang sudah tidak asing lagi dengan sikap ini, karena tentu sudah begitu banyak materi-materi ataupun bahan-bahan yang didapatkan baik melalui seminar, rekoleksi, dan pendidikan sekolah. Dari analisa mungkin segi materi pasti sudah sangat paham, tetapi sekarang adalah saatnya pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari secara konkret.             Kejujuran merupakan suatu sikap yang mau dengan terbuka dan rendah hati mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya, singkatnya adalah apa yang ada di dalam hati dan pikiran selaras dengan apa yang diucapkan maupun dilakukan (Lurus Hati). Tetapi seringkali justru setiap orang pada saat ini sulit untuk mensinkronisasi antara hati dan pikiran. Hati dan pikiran hendaknya sama dan selaras demi terciptanya kejujuran, tetapi jika isi dari hati berbeda dan berlainan dengan isi dari pikiran maka nantinya akan menciptakan lahirnya tindakan dan sikap berbohong. Kebohongan akan mengakibatkan hilangnya kredibilitas atau kepercayaan orang di dalam kehidupan. Bertolak pada ajaran kitab suci, salah satu tokoh yang terkenal yakni Nabi Ayub yang hidup dalam kesalehan dan kejujuran serta takut akan Allah (bdk Ayub 1:8). Teladan Nabi Ayub bisa dijadikan virus baik untuk menjangkitkan sikap kejujuran ini kepada setiap orang terutama bagi mereka yang menjalani hidup bakti dalam komunitas. Untuk itu perlu membangun dan menciptakan iklim kepercayaan satu sama lain dalam hidup komunitas sebagai lem perekat yang memikat setiap anggota hidup bakti untuk hidup dalam solidaritas. Di dalam menjalani hidup panggilanpun senantiasa diharapkan untuk mampu menciptakan semangat untuk selalu menjadikan doa sebagai prioritas yang menjadi kualitas iman, serta sikap jujur dengan membuka hati bagi Allah, membiarkan Allah yang hadir dan meraja di dalam diri. Dalam hubungan antara kejujuran dan persaudaraan juga nampak dalam Kitab Tobit, dikatakan bahwa “Lebih baiklah doa benar dan sedekah orang jujur daripada kekayaan yang lalim” (Tob 12:8). Artinya bahwa kejujuran merupakan harta yang paling berharga untuk dimiliki di dalam hidup persaudaraan demi terciptanya eratnya hubungan persaudaraan, itu sebabnya “Orang jujur hendaknya menjadi teman makan” (Sir 9:16) yang selalu menemani dan ada dalam setiap langkah mengikuti jalan panggilan Tuhan di lingkungan komunitas hidup bakti terutama di dalam Postulat Stella Maris. *) Alfredo Kevin

JUJUR
cermin jiwa yang
KUDUS
*)Frans 



KONFERENSI:

 JUJUR?
(Alexander N.B)

            Kata ‘jujur’ sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi kita yang telah berumur dewasa ini. Kata ini sering diajarkan oleh orangtua kita semasa kanak-kanak dulu. Namun tidak bisa kita pungkiri bahwasannya  kita terkadang di jerat oleh situasi yang memojokan kita dalam mengambil sikap jujur dan terbuka. Kita kerap kali membohongi diri kita, membohongi perasaan kita, membohongi jati diri kita sendiri. Ketika hal ini menjadi suatu kebiasaan, Bagaimana bisa kita menjadi yang orang jujur?
            Kata ini juga menjadi suatu hal yang tidak dianggap, tidak diperdulikan atau kata lainnya ‘masa bodoh’ di zaman modren ini. Tindakan korupsi ada dimana-mana. Sepanjang tahun 2018 mencatatkan terjadi 13 pemimpin, baik dalam kabupaten, kota madya, maupun provinsi yang terjerat oleh kasus korupsi ini (Kompas,18Februari2019:16). Bukan hanya itu saja, isu yang masih hangat terjadi di Jawa Timur ialah korupsi masal oleh anggota DPR.
            Setiap orang perlu memberi tanda tanya (?) besar untuk dirinya, atau bahkan untuk kita yang nota bene adalah calon imam, Apakah saya sudah jujur? Apakah saya berani mengatakan bahwa saya salah di hadapan orang lain? Ketidak jujuran sudah merambat kemana-mana, Siapkah saya berkata jujur?
            Hal ini menjadi penting bagi kelajuan sikap moral yang sesuai dengan tata etika kita dalam kehidupan bersosial. Apa yang terjadi jika kata yang pendek ini tidak dihiraukan? Saya tidak yakin akan menghasilkan buah yang diharapkan oleh Yesus dari kita sebagai yang Ia panggil untuk menjadi gembala bagi domba-dombaNya.

            Oleh sebab itu, dalam edisi ini saya hanya bisa memberi tips agar kita dapat jujur sebagai orang atau pribadi yang dipanggil oleh Yesus untuk menjala manusia:
1.      Mendekatkan diri pada Tuhan
2.      Membentuk suara hati yang Katolik
3.      Rendah hati untuk mengakui bahwa ‘saya salah’
4.      Berfikir bahwa setiap tindakan mempunyai konsekuensinya
5.      Menghidari segala hal-hal yang bersikap negatif
Berkomitmen melakukan kebaikan 


JURNAL:

JUJUR: “KUNCI KESUKSESAN”

       “Hatiku terasa ditopang sejuta malaikat, pikiranku kembali tenang, perasaan cemas kini berubah menjadi kegembiraan. Itulah yang aku rasakan seusai mengadakan pengakuan dosa di kapela Stella Maris. Aku  sendiri merasa bangga karena dengan keberanian saya mampu menggerakkan bibirku untuk melontarkan sejumlah kesalahan yang pernah aku lakukan selama hidupku terutama dalam perjalanan panggilan hidupku sebagai seorang biarawan”.
       Perjalanan panggilan hidup sebagai kaum biarawan tidak bisa dipisahkan dari kesalahan-kesalahan dan dosa. Sebagai manusia biasa yang dipenuhi dosa, hal itu bukanlah makanan asing bagi kita. Kesalahan-kesalahan dan dosa dapat dikatakan sebagai makanan tambahan yang secara tidak sadar dicintai, digemari dan diminati oleh setiap anggota yang turut ambil bagian di dalamnya.
       Jika dipandang secara positif antara kesalahan dan panggilan dapat dilihat sebagai suatu hubungan timbal balik yang dapat membentuk suatu  pola hubungan positif yang biasa dikenal dengan hubungan yang komensalisme. Secara rinci dapat dapat dijabarkan sebagi suatu hubungan yang sangat menguntungkan panggilan hidup kita meskipun kesalahan itu sendiri berada di posisi yang statis. Antara kesalahan dan panggilan dapat membentuk suatu pola khas dimana “setiap orang yang telah yang telah dipanggil pasti akan terjerumus dalam kesalahan sebaliknya kesalahan itu adalah konselor yang baik dalam merubah, memperkuat, dan memperteguh panggilan asalkan tidak menjadikan kesalahan itu sebagai makanan favorit bagi kita”.
       Kedua situasi ini (kesalahan dan panggilan) dapat diseimbangkan manakala setiap orang yang pernah bergulir dalam roda kesalahan berani untuk menerangkan dan mengakui kesalahannya, jujur terhadap apa yang telah dilakukan, serta berusaha untuk keluar dari lingkaran kesalahan tersebut. Cara yang sangat sederhana ini merupakan emas permata yang sangat berguna bagi panggilan hidup menuju masa depan . Jujur adalah kunci kesuksesan, dengan jujur kita bahagia, dengan jujur segala beban dilenyapkan, dengan jujur kebimbangan hati menjadi tenang, dengan jujur panggilankita semakin terjaga. Oleh karena itu, kita semua diajak untuk bersikap jujur, pertama-tama jujur tehadap diri sendiri, Tuhan dan sesama. *Rivan.S 


SERBA-SERBI:

Susah Untuk Dingkapkan Tapi Penuh Makna

Orang jujurlah yang akan membela diri di hadapan-Nya, dan aku akan bebas dari Hakimku untuk selama-lamanya.
(Ayub  23:7)

            Persaudaraan secara khusus dalam komunitas adalah sebuah pemberian diri kita untuk membuka diri untuk mencintai orang lain sebagaimana adanya, dengan luka-luka, kekurangan, dan kelebihannya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Memang terkadang sangat susah untuk membuka diri atau “jujur” dengan apa yang kita miliki dan mengakui segala kesalahan demi perdamaian. Memang banyak terjadi perpecahan dalam berkomunitas. Tetapi dengan adanya hal itu, kita dapat dikuatkan dengan hidup saling memperhatikan dan hidup menderita bersama, walaupun tidak gampang untuk menjalaninya. Akan banyak tantangan yang akan kita hadapi dalam menjalani panggilan suci ini, baik itu internal maupun eksternal. Tetapi dalam membangun persaudaraan yang kokoh itu, harus dimulai dalam diri sendiri. Jika jiwa persaudaraan sudah tumbuh dalam diri, barulah kita keluar untuk membuka diri dalam menerima orang lain dan selalu bersikap jujur dalam menjalani relasi antar sesama.
       Hal ini menuntut kita untuk mempunyai pribadi yang jujr dalam menerima antar sesama dan dalam hidup berkomunitas. Terkadang jika kita melakukan kesalahan kita kana merasa ketakutan dan selalu ingin menutup diri, agar orang tidak mengetahiu kejelekan kita. Padahal dalam menjalani panggilan suci ini, kita dituntut untuk bersikap jujur, tetapi dengan memberanikan diri untuk mengakui kesalahan, pasti kegelisahan dalam diri lepas dan masalah yang kita perbuat akan selesai tanpa adanya kecurigaan antar sesama.
       Dengan ini, dalam menapaki panggilan Tuhan ini. Haruslah kita memiliki dan menghayati pentingnya kejujuran dalam hidup persaudaraan. Memang sangat kecil tetapi sangat susah untuk diucapkan karena adanya rasa takut dalam membangun relasi dengan sesama. Tetapi di balik itu semua penuh dengan makna dalam membangun persaudaraan dalam komunitas yang kokoh.
*)Riyan, S.

 
LENSA:
 mEmBiDiK KeJuJuRaN
 JUJUR itu MUJUR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEDITASI (Edisi VIII/Apr/19)