KESETIAAN (Edisi II/Feb/19)


GEMA SABDA:

           Panggilan hidup membiara merupakan sebuah kado istimewa yang diberikan Allah bagi umat yang dipilih dan percayakan-Nya. Hadiah yang berharga ini menjadikan kaum biarawan lebih matang dan mantap dalam menapaki dan menelusuri lorong-lorong kebenaran akan kerajaan Allah sebagaimana yang telah diwartakan dan dilukiskan kristus selama pengembaraanNya di dunia ini.
        Kita sebagai biarawan yang telah terpanggil dan menerima isi hadiah istimewa dari Allah tentunya memiliki suatu pegangan dan panduan dalam meneruskan dan mendorong keberhasilan putaran roda panggilan hidup yang telah kita terima. Pegangan utama yang menjadi fundasi dalam menguatkan panggilan hidup yang telah di anugerahkan Allah bagi kita adalah teladan hidup kristus sendiri dimana Dia setia dalam menjalani dan menyelesaikan tugas perutusan BapaNya bahkan Dia rela untuk disalibkan (Mrk 15:20b-32; Mat 27:32-44; Luk 23:26,33-43; Yoh 19:17-24) Kesetiaan yang digambarkan ini dapat dikatakan sebagai mutiara yang sulit untuk digapai oleh siapapun karena tidak semua orang dapat mengalami dan ingin merasakan hal seperti ini.
       Kesetiaan Kristus akan perutusanNya menjadikan manusia sebagai ciptaan baru dimana umat manusia diselamatkan dan dipeerbarui menjadi manusia yang semakin dekat dengan Allah. kesetiaan ini juga menjadi inspirasi bagi kita sebagai kaum religius dalam menjawabi dan menyelesaikan teka-teki isi kado yang telah dihadiahkan Allah. Kesetiaan yang tulus menjadikan kita semakin dimantapkan  dalam menelusuri petak-petak kehidupan yang telah dibentuk Allah, yang akan dijalaninya dalam putaran waktu selanjutnya.
       Kesetiaan ini juga dapat dilihat dari cara hidup para rasul dan jemaat perdana yang selalu setia  dan tekun pada ajaran  Yesus kristus yang menjadi pokok dan akar dari pewartaan  mereka tentang kebenaran kerajaan Allah bdk Kis 2:41-47) . Sebagaimana Para rasul dan jemaat perdana setia pada tugas perutusan Yesus kita pun diharapkan untuk selalu setia dalam menapaki panggilan hidup yang telah direncanakan Allah bagi kita, karena bersikap setia merupakan akar yang kuat dalam mengkokohkan buah-buah panggilan serta mematangkan diri dalam menjalani tugas perutusan Yesus bagi kita. *Rivan 


KONFERENSI:

SETIA: BUAH DARI ROH




“Sampai akhir kumenutup mata, kutetap setia menanti janji-Mu. Sampai kudapatkan mahkota kehidupanku, kutetap setia tuk melayani-Mu”. Demikianlah penggalan sebuah reffrain lagu yang dinyanyikan oleh seorang anak yang terlahir buta, yaitu Grezia Epiphania. Lirik yang sangat dalam ini menggambarkan isi hati seseorang yang dengan penuh pengharapan tetap melakukan segala sesuatu dengan setia karena satu motivasi yaitu untuk mengasihi Tuhan.

            Berbicara soal “setia” sangatlah tidak mudah. Rasanya tidak cukup untuk dijelaskan dalam kajian teoritis, karena hal ini dapat mencakup dalam segala aspek kehidupan. Setia adalah suatu tindakan yang lahir dari hati, bukan terbatas tentang perasaan, tetapi suatu komitmen untuk melakukan segala sesuatu dengan konsisten. Setia mengandaikan suatu sikap untuk berani lepas dari sikap keegoan yang ada di dalam diri. Meskipun terlihat sangat mudah untuk dijalani, nyatanya supaya bisa setia memerlukan perjuangan yang cukup besar disertai dengan kerelaan hati untuk menggapai kesetiaan itu.
            Setia menurut Alkitab adalah sikap yang muncul karena penyerahan diri pada bimbingan Tuhan. Dengan membiarkan diri digerakkan oleh Roh Allah, maka dengan sendirinya Ia akan membimbing kita untuk melawan keinginan daging yang menjadi penghalang bagi kita untuk berusaha setia dalam segala sesuatu (bdk. Gal 5:1-26). Bagaimana mungkin seseorang bisa setia kepada Tuhan sedangkan ia hidup menurut kehendaknya sendiri? Di saat yang kita cari hanyalah kehendak Tuhan, maka kita akan melakukan segala perintah-Nya dan perlahan-lahan kesetiaan hidup di dalam kita.

            Sejak zaman dahulu kala, kesetiaan memang sangat sukar untuk dilakukan dan jarang ditemukan dalam diri banyak orang. Bahkan penulis Amsal sendiri berkata: “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (bdk. Ams 20:6). Kesetiaan yang mahal harganya ini dapat kita latih di dalam hidup kita. Dengan belajar untuk setia dalam perkara-perkara kecil saja entah itu setia dalam merapikan tempat tidur di pagi hari, menjaga silentium, merawat barang milik komunitas, sudah menjadi suatu langkah yang baik dan mempersiapkan diri kita untuk menerima  banyak perkara besar yang akan Tuhan percayakan kepada kita. Selain itu, kita juga perlu bersandar pada kesetiaan Tuhan yang tidak pernah goyah. Kita tahu bahwa diri kita juga punya banyak kelemahan, ada kalanya kita akan lalai untuk tidak setia. Tetapi ketika kita bercermin pada kesetiaan Tuhan yang kokoh, maka kita akan terpacu untuk bangkit dan berusaha kembali untuk setia. Dengan berlaku setia dalam segala sesuatu, kita menjadi pribadi-pribadi yang secara rela dibimbing dan digerakkan oleh Roh Allah. *Nico

                                                           
  
*Kesetiaan adalah perasaan damai yang mendorong nurani untuk mencintai apa yang terjadi.
*Kata “Setia” dalam panggilan sama seperti garam yang tampanya terasa hambar.
*Suatu pribadi terbentuk apabila ia setia mempelajari dirinya sendiri.
(Alex)



JURNAL:

AKU YANG DI BALI ITU

Kesepkatan tetaplah sebuah kesepakan. Harus dijalankan! Setelah berjogging  di Rampal, kegiatan berikut yang kami lakukan ialah opus. Walalupun “letih” kami haruslah tetap mengerjakannya, sebab itu adalah syarat supaya kami bisa ambulatio pada Hari Raya Imlek nanti. Kendatipun terasa sulit dan berat, kesepakatan teteplah kesepakatan. Harus dijalankan!
            KESETIAAN. Itulah nilai umum yang dapat dipetik dari pegalaman kami, setia untuk menjalankan apa yang harus dijalankan. HARUS! Untuk menjaga kesetiaan merupakan hal yang tidak mudah, penuh dengan rintangan dan salah satunya adalah “letih”. “Letih” merupakan kendala yang besar dan kuat, kendatipun demikian batu yang besar dan kuat dapat hancur jika terus-menerus ditetasi dengan air. Semangat ambulati tetaplah berkoar-koar, di dalam diri kami yang bagaikan ribuan tetesan air itu, membuat kami dapat menghadapi rintangan tersebut.
            Untuk memperoleh hasil yang baik tentunya dibutuhkan pengorbanan dan ketekunan, setia untuk terus menerus berusaha. Rintangan adalah tembok besar tanpa adanya pintu pun jendela yang mudah untuk dilalui. Lalu bagaiman kita dapat melaluinya? MEMANJATNYA!!! Tembok rintangan itu mempunyai anak tangga yang begitu banyak. Kita harus menapakinya! bukan hanya meninggalkan jejak tapakan kaki saja, tetapi tetesan keringat pun harus ditinggalkan di setiap pijakan kaki. Begitu pula dengan panggilan kita.
            Mencintai itu mudah, tetapi untuk terus mencintai itu, apakah mudah? Tentunya untuk terus mencintai itu dibutuhkan kesetiaan. Kesetiaan untuk mencintai apa yang harus kita cintai. Setia intuk mencapai tujuan yang kita harapkan. “We are free to choose the choice, but we can not free to choose the consequence”. Kita mencintai panggilan kita, setiakah kita untuk mencintainya? So, tidaklah salah bagi kita untuk merenungkan ayat berikut: “karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku”(I Tim I:I2)  *Edwin


LENSA:
Foto: Joging di Lapangan Rampal


SASTRA:
SANG MUSAFIR

Sejenak berhenti melangkah
menatap jalan yang penuh liku
yang penuh kerikil nan perih
menuju mutiara yang memelukku
ketika suara terus menggema
merayuku dengan lembut
“Engkau akan Kujadikan penjala manusia”
seketika diriku merunut
dengan pasti kumelaju
tertatih di jalan penuh kerikil
membuatku rintih dan kerdil
namun  setiaku, tetap pada jalan-Mu
ketahuilah
aku adalah musafir
setia menunduk
dan terus menunduk 
akan suara Sang Khalik 
(Irwan)

SERBA SERBI:

KETAATAN=KESETIAAN


Kaum Biarawan biarawati membaktikan hidupnya dengan cara mengikrarkan kaul atau 3 nasehat Injil. Inilah sebagai salah satu syarat atau tanda yang menunjukkan bahwa dia sudah mempersembahankan hidupnya kepada Tuhan secara total. Salah satu dari ketiga nasehat injil tersebut adalah tentang ketaatan.
            Ketaatan berarti setia untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak yang keluar dari mulut Allah dan manusia. Ketaatan ini diambil dari sikap Yesus yang taat kepada Bapa sampai Dia harus mati di kayu salib (lih Fip 2:8) dan dari perkataan-Nya (lih Yoh 4:34, 15:10). Inilah yang menyebabkan bahwa ketaatan itu sangat penting dimiliki oleh kaum Religius dan Biarawan Biarawati.
            Ketaatan banyak dipersoalkan dalam dunia modern yang merasa bahwa dirinya “dewasa” seperti dunia sekarang ini. Banyak persoalan yang menyangkut ketaatan dalam hidup religius yang disebabkan antara lain karena kita banyak membicarakan dan mempersoalkan ketaatan hanya pada tingkat hubungan manusia belaka, dan tidak melihat dalam artinya yang terdalam sebagai ketaatan religius.
            Ketaatan religius memperoleh dasar yang kuat dalam ketaatan injili yang radikal dan berlaku umum untuk semua orang, yaitu ketaatan pada kehendak Allah. Ketaatan kepada kehendak Allah ini merupakan jalan keselamatan. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama juga ditekankan bahwa kesempurnaan manusia pada intinya terletak dalam ketaatannya kepada kehendak Allah.
            Sikap iman ini menjadi jelas dalam ketaatan kepada perwahyuan diri Allah, seperti terjadi dalam perjanjian, dalam sabda hukum dan para Nabi. Ketaatan kepada perintah Tuhan merupakan sarat untuk terpenuhinya pejanjian. Dalam cinta akan hukum terletahlah perwujudan cinta akan Allah. Disini terletaklah dasar untuk penilainan yang lebih tinggi mengenai ketaatan.
            Bentuk hidup bakti ini dibuat oleh para penguasa Gereja dengan tujuan untuk memperoleh kesempurnaan cintakasih dalam pelayan kerajaan Allah dan sebagai tanda unggul Gereja dalam mewartakan kemuliaan Allah. Karena hal itulah status mereka yang mengikrarkan nasehat-nasehat injili dalam lembaga-lembaga semacam itu melekat pada kehidupan serta kekudusan Gereja, dan hal itu haruslah dipupuk dan dimajukan oleh semua saja yang ada di dalam Gereja (KHK 574).
            Maka dari itu, sikap taat harus dimiliki oleh kaum Religius dan biarawan-biarawati sehinggga mereka mampu untuk mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Allah dan menyatukan diri mereka dengan kehendak Allah yang menyelamatkan.
*)Tulisan ini merupakan ringkasan makalah kelompok Tugas Vita Consecrata: Frs. Yeremias Pelea Puhun, Teddy Subiantoro, Adrianus Nero, Ignatius Hendra Sutikno.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEDITASI (Edisi VIII/Apr/19)