PERSAUDARAAN (Edisi I/Jan/19)
GEMA SABDA:
SEMPIT TAPI KAYA
SEMPIT TAPI KAYA
Hidup dalam semangat persaudaraan
akan menciptakan suasan yang harmoni, selalu dipenuhi dengan orang-orang yang
kita cintai dan senantiasa hadir kapan pun. Dalam kitab Amsal 17:17 berbunyi: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,
dan menjadi saudara dalam kesukaran”. Seorang sahabat tantunya akan selalu
hadir di setiap waktu, dimanapun saya ada dan kapanpun saya berada. Tetapi dalam hal persaudaraan
lebih ke arah ikatan batin, ia akan peka dan dapat merasakan apa yang sedang di
rasakan oleh saudaranya itu. Maka dengan seketika sahabat pun dapat menjadai
seorang saudara yang beda rahim.
Kondisi
di tempat ini memang sangat menunjukan bagaimana kesempurnaan hidup dalam
persaudaraan. Keberagaaman di tempat ini bukanlah menjadi masalah. Melainkan
menjadi sebuah keberuntungan, karena dengan itu kami dapat belajar banyak hal
dari keberagaman tersebut. Dengan perbedaan tersebut,
kami dapat saling menghargai dan menghormati satu sama lain (Rom 12:10)
“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagat saudara dan saling mendahului dalam
memberi hormat”. *) Edwin
KONFERENSI:
PERSAUDARAAN ALLAH TRITUNGGAL
PERSAUDARAAN ALLAH TRITUNGGAL
Allah Tritunggal
adalah satu persekutuan antara pribadi Bapa, Putera dan Roh Kudus. Di dalamnya
terangkai komunikasi antar pribadi-pribadi. Komunikasi dimengerti sebagai
pemberian diri Allah yang terjalin dalam kebenaran dan cinta. Hal ini menyata
dalam penciptaan, dalam rahmat dan dalam penyempurnaan eskatologis. Pada
penciptaan Allah Bapa memberikan diri-Nya kepada manusia, dalam rahmat Putera,
menyerahkan diri bagi manusia, dan menuju penyempurnaan definiti Roh Kudus
membimbing dan menyertai manusia. Dalam pemberian diri itu Allah Tritunggal
menghidupi persaudaraan bukan dalam pengertian per-sedarah-an, melainkan sebuah
komitmen yang menegaskan perhatian sepenuh-penuhnya untuk menyelamatkan
manusia.
Komunitas persaudaraan Allah
Tritunggal terungkap dalam penghargaan akan keunikan masing-masing pribadi
serta tugas-tugasnya. Keunikan setia pribadi serta pluralitas tugas bukan
menjadi hambatan melainkan kekayaan yang menjadi cara dan jalan untuk
menyelamatkan manusia. Allah Tritunggal sanggup membangun kondisi persaudaraan
yang sejati sehingga daripadanya dimungkinkan pencapaian cita-cita bersama
yakni keselamatan manusia.
Cita-cita dan
harapan bagi terwujudnya dunia yang aman dan damai, harusnya didasarkan pada
pemahaman manusia tentang siapa sesamanya. Jika setiap manusia atau kelompok
manusia mampu melihat sesamanya sebagai saudara yang dia butuhkan dan sekaligus
yang membutuhkan kehadirannya, maka cita-cita tersebut menjadi mungkin.
Kesadaran sebagai saudara akan menghasilkan persaudaraan sejati yang mendasari
setiap keluarga, komunitas, persekutuan, atau kelompok manusia macam manapun.
Relasi antar pribadi manusia dengan ini juga akan berdasar pada konsep
persaudaraan universal. Saudara bukan lagi dipahami sebatas kakak atau adik
kandung, atau orang yang masih dalam hubungan darah. Persaudaraan tidak hanya
dibangun berdasarkan kelompok atau komunitas tertentu. Saudara bukan hanya
berarti semua orang yang seiman dan sebangsa dengan kita. Saudara kita adalah
sesama manusia, siapapun dia. Dengan demikian dunia kita akan menjadi suatu
persekutuan yang sanggup menghasilkan buah yakni keselamatan manusia,
sebagaimana ada dalam komunitas persaudaraan Allah Tritunggal. *)Dasriminocarm
Per-SAUDARA-an
Melampaui
Per-SEDARAH-an

Komentar
Posting Komentar