RENDAH HATI (Edisi V/Mar/19)
(Afri)
GEMA SABDA:
Tiada yang lebih indah dalam hidup
selain mampu mengantar sesama kepada kebahagian. Salah satu caranya adalah mau
menjadi yang terakhir dan berani menjadi pelayan. Ini merupakan suatu semangat
kerendahan hati. Ketika banyak orang disilaukan oleh segala yang bersifat fana,
materialisme, hedonisme, dan konsumerisme, Yesus mengajarkan sikap batin yang
hakiki dan lepas bebas, yaitu merendahkan diri di hadapan Allah dengan menjadi
pelayan. Yesus bersabda, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu,
hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan dari
semuanya” (Mrk, 9:35).
Sebagai
orang Kristen, kita dipanggil dan dituntut agar mampu melayani dan
membahagiakan sesama. Kita dipanggil untuk menjadi Pelayan Kasih atau pelayan
yang penuh kasih. Sebagai orang Katolik, tugas menjadi pelayan juga kita terima
dari Gereja ketika kita dibabtis, yaitu Diakonia.
Pelayan
yang penuh kasih, menata hatinya terlebih dahulu sebalum melayani orang lain.
Ia harus menanamkan semangat kerendahan hati, ketaatan dan semangat pelayanan
serta pengorbanan dalam hatinya. Dengan bekal dan pegangan ini, seorang pelayan
mampu melayani sesamanya dengan tulus dan iklas seperti apa yang Yesus ajarkan
dan yang Yesus teladankan. Yesus meminta dalam Lukas, 17:10 agar kita selalu bersikap rendah hati dalam
melaksanakan segala tugas yang dipercayakan kepada kita.
Bersikap
rendah hati berarti tidak menonjolkan atau menyombongkan segala kelebihan yang
kita miliki, bersikap rendah hati berarti siap menerima segala yag dipercayakan
kepada kita dan melaksanakannya dengan penuh rasa tanggungjawab dan setia,
bersikap rendah hati berarti selalu peka terhadap kebutuhan teman. Sudakah kita
bersikap rendah hati dalam menjalani hidup ini? *) Jiro
KONFERENSI:
RENDAH HATI
(Menyadari kelemahan dalam diri di
hadapan Tuhan)
Rendah
hati adalah dasar dari segala keutamaan.
Kerendahan hati tidak menghendaki apa pun bagi diri sendiri, termasuk
pujian atau pun kebanggaan diri. Seperti Maria yang memberi terang dan kebenaran
menyatakan bahwa “jiwaku memuliakan
Tuhan,... karena Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar
kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Luk 1:46,49). Maria sungguh menyadari
kelemahan dalam dirinya dan ia mengakuinya di hadapan Tuhan seperti kisah Yeremia
(Yer. 1:6). Akan tetapi apa yang dilakukan Maria adalah sungguh-sungguh atas
naungan dari Roh Kudus dan ia memuliakannya lewat magnificat.
Kerendahan
hati berarti menyadari kelemahan di hadapan Allah yang maha mulia bahwa kita
sebagai manusia yang memiliki segala keterbatasan berguna dan berbuat banyak
bila berada di tangan Allah. Bagaimana dengan kita sebagai calon imam, apakah
kita sungguh-sungguh memiliki hati yang rendah hati atau tidak? Tentu dalam hidup persaudaraan bahwa salah satu faktor yang
ditekankan adalah memiliki hati yang rendah hati. Ironinya adalah hidup di
komunitas ini tentu begitu banyak tantangan untuk menguji kerendahan hati kita.
Ambil misal, saling mengolok atau bully.
Tulisan saya pada vox PSM edisi pertama tentang bully ini juga mengajak kita supaya tetap rendah hati dalam hal apa
pun. Kerendahan hati sangat dibutuhkan untuk menjalani hidup persaudaraan. Jika
tidak, persaudaraan tidak ada artinya dan selalu timbul masalah.
"Hai manusia, telah diberitahukan
kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain
berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan
Allahmu?" (Mikha 6:8) Ulasan
dari kitab Mikha ini sesungguhnya mengajak kita untuk selalu mengakui segala
keterbatasan kita di hadapan Tuhan. Di hadapan Allah dengan rendah hati,
terbuka dan bersedia, siap untuk percaya akan apa yang nampaknya kosong belaka
karena tahu akan kekuatan Allah yang memimpin sejarah hidup kita. Karena itu,
saudara-saudara mari kita tanamkan sikap rendah hati terhadap sesama dan Tuhan
serta mengakui segala kelemahan di hadapan Tuhan.
“O Perawan tersuci, seperti yang dikatakan
dalam mazmur bahwa karena kerendahan hatimu, Tuhan telah berbuat hal-hal yang
besar padamu; perolehkanlah rahmat bagi serikat ini untuk meneladani engkau.
Perawan suci bantulah kami untuk memperoleh rahmat itu dari Puteramu” (St.
Lusia).....*) Putra Rismawan
SERBA-SERBI (I):
Rendah hati merupakan sikap mutlak yang dimiliki oleh
setiap orang. Setiap orang pastilah pernah melakukan hal baik walaupun orang
jahat sekalipun. Orang jahat juga pernah suatu hal baik dalam hidupnya. Seorang
pembunuh, pemabuk, dan pelaku pelecehan seksual pun pernah melakukan kebaikan.
Mereka pasti pernah membantu sesama dengan hati yang tulus walaupun akan
dipandang rendah oleh orang lain.
Untuk
mampu bersikap rendah hati, seseorang perlu memiliki hati yang tulus dan mau
memaafkan setiap orang yang bersalah kepadanya walaupun itu sulit dan
membutuhkan waktu. Membantu orang yang tidak kita sukai merupakan hal yang
sangat sulit. Cara untuk memudahkan kita dalam membantu orang yang kita benci
ialah dengan menghilankan sikap egois dalam diri kita. Nah dengan melunturkan
ego, kita dapat membantu orang yang kita benci dengan hati yang tulus. Berkerja
sama dengan ketulusan akan membuat semua pekejaan terasa lebih mudah kerena
kita berkerja dengan tanpa membawa beban. Dan hal yang tak kalah penting untuk
memiliki sikap rendah hati adalah memaafkan.
Memaafkan orang yang telah berbuat salah kepada kita
sehingga kita membenci dia merupakan sikap rendah hati yang sejati. Memaafkan
orang yang kita benci membutuhkan hati yang besar dan waktu yang relatif lama.
Yesus sendiri mengajarkan kita untuk selalu memaafkan setiap orang yang telah
melakukan kesalahan terhadap kita. Maka haruslah kita memiliki sikap rendah
hati agar dapat mengikuti ajaran Kristus Sang Pemurah dan Pemaaf. Marilah
memaafkan setiap orang yang sudah berbuat salah terhadap kita agar kita
memiliki hati yang tulus Layaknya Kristus dan pantas menjadi muridnya yang
kudus. *)Marcel
SERBA-SERBI II:
RENDAH HATI TERHADAP
SESAMA
Tuhan menciptakan manusia tidak
persis sama, walaupun saudara kembar. Perbedaan-perbedaan itu merupakan
keindahan yang pantasnya dikagumi, disyukuri dan disadari sebagai nilai tambah
dalam kehidupan bersama. saling mengisi dan melengkapi. Bagi sekelompok orang,
ada yang melihat saudaranya sebagai saingan dan musuh yang hendak dibasmi dan
disingkirkan. Ada juga yang mau memaksakan kehendak dan pikirannya agar dapat
diterima oleh orang lain sebagai kebenaran atau pendapat yang patut dijadikan
pendapat umum.
Memaksakan pendapat sama
dengan tidak menghargai orang lain bahkan menginjak-injak martabat orang lain
sebagai manusia biasa. Akibat sikap ini, orang merasa terhina, kesal, marah dan
jengkel bahkan bisa membuat seseorang bereaksi dan bertindak secara keras.
Sikap
pola kepemimpinan Yesus amat lain.Yesus memimpin dengan lemah lembut dan menyampaikan ajaran keselamatanNya dengan
rendah hati. Yesus sendiri pernah
berkata bahwa: ”Belajarlah
pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
ketenangan.” Di sini, Yesus menyampaikan
ajaran baru yaitu belajar lemah lembut dan rendah hati. Yesus mau
mengajak kita menjadi orang yang baik yang tidak kasar.
Bagitu pula hidup dengan
orang lain sebagai saudara, orang harus menjadi lembut dan rendah hati agar
tercipta relasi dan suasana yang baik. Setiap kita dituntut untuk perlu belajar
rendah hati agar semua kesebalan jiwa lenyap, kejengkelan luntur dan semua
beban menjadi ringan sehingga hidup kita dan sesama menjadi tenang dan damai. *Welly Siqi*

Komentar
Posting Komentar