OPUS (Edisi VII/Mar/19)





Opus akan berjalan mulus, kalau kamu tulus!
Maka bekerjalah dengan fokus tanpa mengabaikan potus,
supaya tidak terjadi homo homini lupus
(Manusia menjadi serigala bagi manusia lain)*Nardy
 







Berdoa dan Bekerja

Ora et labora, suatu kalimat singkat yang memiliki makna yang dalam. Istilah ini, sudah lama digunakan untuk memberi motifasi kepada siapa saja. Sebagai seorang Kristen yang beriman dan taat kepada Tuhan. Dalam kegiatan kita sehari-hari hendaknya kita selalu melakukan segala sesuatu dengan menyerahkan diri terlebih dahulu kepada Tuhan.
Bekerja adalah suatu kegiata yang terus-menerus kita lakukan selagi kita diberi anugrah kehidupan oleh Tuhan. Tanpa bekerja maka kita mati, oleh karena itu maka kita jangan segan atau tidak mau melakukan sesuatu pekerjaan, sebab dengan bekerja kita menjadi manusia yang sesungguhnya. Dalam melakukan sesuatu hendaknya kita melakukannya dengan penuh kesadaran supaya kita bisa dengan sepenuh hati mengerjakan pekerjaan yang kita kerjakan. Mengerjakan pekerjaan dengan penuh cinta akan menumbuhkan rasa memelihara dan rasa tanggungjawab lebih, serta rasa memiliki dalam hati kita, sehingga dengan demikian apa saja yang kita lakukan pasti akan berhasil. (bdk 2 Tes 3:9 1 Tim 4:12)
Bekerja adalah kegiatan yang biasa kita lakukan, khususnya dalam diri kita sendiri dan umumnya di lingkungan/tempa kerja kita. Semua pekerjaan kita lakukan dengan  tujuan memberi hasil yang lebih baik dan pasti. Banyak orang menghindari pekerjaan yang menurutnya tidak terlalu berguna bagi dirinya tetapi sangat berguna kelangsungan hidup bersama, misalanya; memungut sampah di tempat umum.
Kita yang disebut sebagai makhluk sosial, hendaknya kita memberikan teladan yang baik kepada semua orang dimanapun kita berada tentang apapun yang kita kerjakan. Untuk mewujudkan hal ini haruslah kita menanamkan dalam hati kita cinta akan setiap pekerjaan dan peduli akan sesama serta kita lakukan tanpa menunggu dan menuntut sesuatu dibalik apa yang kita lakukan karena kita melakukannya demi Tuhan dan bukan demi manusia (Kolose 3:23).
Gambaran atau cerminan tentang diri seseorang juga dapat dilihat dan dibaca lewat setiap apa yang dia lakukan atau dia kerjakan. Untuk itu, marilah kita melakukan segala sesuatu dengan bersungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab sebagai cerminan kasih Kristus yang kita teladani dan bukan menghianati apa yang kita teladani.
Seorang biarawan kita tidak hanya berdoa saja tetapi kita juga harus seimbangkan waktu kita untuk bekerja. Seorang biarawan yang bijak, ia tahu bagamana ia menempatkan diri dalam hal ini, tetapi orang yang malas bekerja, lebih banyak waktunya berdoa dari pada bekerja. Para petapa, menyeimbangkan doa dan pekerjaan tidak berat sebelah. Itulah salah satu kebijaksaan yang benar tentang hidup.
Seorang pekerja patuh mendapat upahnya, itulah kata Yesus kepada para muridNya, maka jangan kita menganggap sia-sia segala sesuatu yang kita lakukan sebab semuanmya itu pasti ada hikmatnya bagi kita. Bekerjalah dengan giat dan jangan suka menunggu sebab ketika kita mengunggu maka kita sudah membiarkan waktu berlalu dengan sia-sia.
Orang barat berkata “Waktu adalah Uang” tapi saya mengatakan “Waktu adalah Anugerah”*Sefer



HOMO FABER

            Kerja bukanlah sesuatu yang dilakukan orang untuk hidup, melainkan sesuatu yang orang hidup untuk melakukannya. Demikian pernyataan dari filsuf Dorothy Sayers yang mengungkapkan dan memberi makna yang luas tentang “kerja”. Sejatinya benar apa yang dikatakan oleh beliau bahwa kerja bukan hanya untuk hidup saja tetapi lebih dari itu dari sesuatu yang mempunyai akal budi dan mempunyai nalar untuk memberikan sebuah makna tentang kerja. Ketika kita berbicara tentang kerja saya sendiri teringat akan bagaimana kehidupan seseorang yang tinggal di suatu komunitas tertentu atau sebuah biara.
            Tentunya bukan hanya berdoa saja yang dilakukan oleh penghuninya melainkan kesejajaran antara doa dan kerja atau yang disebut dengan pepatah latin ora et labora. Hal ini merujuk pada pengalaman saya di Postulat Stella Maris di mana kegiatan setiap hari adalah doa dan kerja. Doa merupakan makanan pokok bagi para postulan namun di samping itu tidak mengesampingkan manusia yang bersifat kerja. Karena itu, setiap hari Senin, Rabu, Sabtu maupun hari Sabtu serta hari libur lainnya merupakan waktu untuk menguras tenaga. Bukan berarti kerja menyiksa kita namun bagaimana kita melatih diri untuk bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab demi perkembangan hidup (homo faber). Serta menghilangkan sifat mental instan (easy going) dalam setiap pribadi. Maka saya patut mengucapkan syukur dan berterimakasih atas kehidupan saya di komunitas ini di mana saya diajarkan untuk menjadi manusia yang homo faber serta melatih diri untuk selalu bekerja. *Putra Rismawan
 




OPUS : Peyerahan Diri dan Pelayanan

            “Tidak ada seorangpun yang lahir untuk dirinya sendiri”. Setiap orang dilahirkan oleh orang lain, dilahirkan karena orang lain dan dilahirkan untuk orang lain, barulah kemudia ia menjadi dirinya sendiri. Karena diri sendiri dilahirkan oleh orang lain, maka diri sendiripun harus berguna bagi orang lain. Ini bukan hanya semangat balas jasa tetapi lebih dari itu merupakan semangat penyerahan diri. Semangat ini lahir dari kesadaran akan hidup sosial dan penghayatan pelayanan dalam iman.
            Setiap kita dipanggil untuk berguna bagi orang lain. Pengaplikasian diri bagi orang lain bisa melalui berbagai hal. Salah satunya salah bekerja untuk kebaikan dan kebahagiaan bersama seperti menyiapkan makan pagi untuk komunitas, membersikan kelas dan kapel, membersihkan halaman yang dipenuhi dedaunan, dan lain-lain. Dengan melakukannya, kita semua akan merasa aman, tenteram dan bahagia. Semuanya harus dilakukan dengan penuh keiklasan dan penuh cinta. Ini adalah sebuah semangat pelayanan.
            Bekerja keras demi orang lain itu baik. Namun ketika kerja keras disertai dengan gerutu, keluh kesah dan dengan keinginan agar dipuji orang maka hilanglah kebaikan dan keindahannya. Kerja untuk mencari pujian merupakan semangat kesombongan. Dalam situasi seperti ini Tuhan Yesus senantiasa menegur dan menasihati kita (Luk, 17:10).
            Kita dipanggil untuk menghayati kasih karunia Allah dalam kehidupan sehari-hari. Itu berati kita harus bertindak berdasarkan dan dalam kasih karunia-Nya: hidup dan bekerja dalam kasih karunia Tuhan. Secara konkret, kesibukan dan pekerjaan kita sehari-hari harus senantiasa dihayati dengan ceria, penuh rasa syukur, dan terima kasih. Sudahkah kita menghayati dan melakukannya?*Jiro


Ora* Labora

Ora et labora
Berdoalah dan bekerjalah
Memikul kuk, berhentu membebani ?

Ora berdoalah
Bersyukur kepada Allah
Mohon tetesan iba, berhenti berpura-pura

Labora bekerjalah
Berbakti kepada Allah
Dengan rasa, berhenti berpura-pura

Oh, Ora
Berdoa dan tidak* bekerja
Menunggu waktu, menanti hari, mati

Oh, Labora
Bekerja dan berdoakah ?
Biarlah berlalu, mungkin nanti dijawab, siapa tahu

Sekali lagi, imbangi
Sebelum api, membakar isi hati* KenNar

*Ora (Jawa) : tidak
 




KERJA LAGI ?

Rumah kami berdiri di samping kali, dari sungai yang kian hari kian tidak bersih lagi. Belakangan ini rumah kami menyaingi, kuantitas dan kualitas sampah yang memnjadi-jadi. Hanya saja sampah kami tersusun rapi sapanjang langkah kaki. Ah, andai ada yang lebih peduli, sayang kami punya kesibukan pribadi. Biarpun surga yang menasehati, bumi memilih jalannya sendiri.

Tak dapat dipungkiri rumah kami aneh sekali, seram sekali, rimbun sekali, kotor sekali, siapa peduli ? Puncak tertinggi tidak lagi, tanah terendah apalagi. Bukan tidak menyadari, hanya ‘permisi’ kami alergi. Walau kerja berkali-kali, kami tidak pakai hati. Kami pakai tangan dan kaki. Melempar dan menendang sampah ke sana ke sini. Pantaslah dia tidak pergi. Oh sedih. Kani semua alergi, dari kepala sampai kaki. Adakah obat untuk sakit kami ini. Karena rumput tidak ditebas dengan sabit lagi. Kami gunakan lidah, bibir, dan gigi. Berkata-kata berharap dia mati, oleh cerca, hina, dan maki. Kami alergi, tanpa kecuali.

Mungkin ini yang perlu dipelajari. Bekerja memang pakai tangan dan kaki, tapi harus karena cinta dan kasih yang tumbuh dalam hati. Bekerja bukan karena jadwal dan hari. Tapi ada niat baik dari dalam diri. Percuma bekerja sampai mati jika harus dipaksa karena tiada berarti. * KenNar 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEDITASI (Edisi VIII/Apr/19)